Posted by : IzanagiMikotoGoBlog Selasa, 13 Januari 2015

IMonogatari adalah blog berisi "Cerita IM". IM berarti Izanagi Mikotom, nama IM. Disini, IM akan ngobrolin tentang semua hal yang ada di dunia. Dunia kita juga dunia yang lain, hehe. Oke, untuk permulaan as hajime, IM akan ngepost cerita buatan IM.

Cerita ini judulnya I. Terinspirasi dari anime jaman sekarang, males banget cari judul. Ada yang judulnya C doang. Ada juga yang K doang. IM suka sih anime itu. Makanya IM berani bermimpi untuk menciptakan anime berjudul I. Doozo!!!!!



I
… from somewhere time was disappear



Cast

Akisaka Shizuka // Hiyato Atsumi
Akisaka Takako // Suzumura Kenichi
Kazuo Keitai // Hikai Muchimura
Kizui Yamano // Takahisa Minami
Takahira Kaketo // Hikasa Satomi
Takahira Souta // Fukuda Fujimara
Tsuguri Marshall // Hirano Ayane
Rikyu Nasada // Kitta Izumi
Ruito Asagi // Hikasa Sakurada
Vivienne // Satoi Mikoto
U.V Kashikoi // Ryi
Yamaoka Minoru // Igachi Kazewara
Directed by // Rye

Presented by M-Project production committee

IM

Entertainment

Proudly

Present




OST             :     Eclecticism
By               :     Under the Sky Theory Call”

Please tell me the copyright of life
Don't tell me the reason

I only wanna right
What is right of me
I only want to feel better
Never tell me why
I only wanna fine
No crushed by everything
I only wanna find
It's no everything of my life
I only wanna fine
What's right for me
I think I just do not understand
What happen to me

Everything comes and out
Somewhere I don't know much
Please tell me the copyright of me
The cadenza life of fate
It's me choose the one
I don't really want to know
What is the meaning of slow
On the meaning of snow
On the morning at vow
I swear I wont let you go
In the meaning of forever
I only want to feel better
Please tell me the copyright of life

Fell find to find something
I hate to be yourself
I really hate to be my ownself
On the morning I remember
In the meaning of forever
I wanna to feel better
Don't disturb me you leader
Find the file of number

Hold me your tightly
Please don't even save me holdly

“Please tell me the copyright of me…”

Only for that I lived







 “If you wont to kill
You’ll be killed…-”



1st : Otority

“Selamat pagi semuanya!” Salam seorang gadis populer memang bisa menggetarkan atap sekolah. Ia bergegas lari memasuki barisan bangku. Dimana tempat anak-anak lain berkumpul. “Hei, kemarin aku lihat berita penampakan UFO saat Perang Dunia II!”
                Nani, nani? Ceritakan.”
                Sialan. Setiap hari aku harus menjalani kehidupan sekolah yang membosankan bersama anak-anak gila. Yang berani bertaruh sejuta yen kalau alien itu ada. Setiap hari aku jadi harus mendengarkan obrolan tidak bermutu mereka. Mengenai hal-hal semacam dunia paralel, alien, Atlantis, Men in Black, fenomena SHC maupun hal-hal semacam Lochness. Tidak bermutu. Daripada sibuk bicarakan itu lebih baik kalian belajar. Agar bisa menghentikan kebiasaan mencontek kalian.
Sialan. Kenapa hari seperti ini harus terulang lagi sih?
                Gawat! Dia menghampiriku. “Yamaoka-kun, kenapa kau diam saja? Apa yang sedang kau baca?”
Sialaan! Aku bener-bener gak suka situasi kayak gini. Plok! Langsung kututup bukuku. “Aku tidak apa-apa kok.”
                “Ahaa, aku tahu. Kau pasti menyembunyikan sesuatu.”
                Di kamar mandi. Seorang diri aku menatap kaca di wastafel. Perasaan ini benar-benar kacau. Wajahku merah padam. Sial. Sial. Sial!
Namanya Nasada Rikyu. Cewek paling manis di sekolah. Masalah utamanya bukan di sana. Masalahnya adalah sifatku yang super pemalu. Seumur hidup aku belum pernah berbicara dengan perempuan kecuali Ibu. Keluargaku juga protektif sekali padaku. Sejak kecil aku tidak pernah boleh keluar. Sembilan tahun berturut-turut aku menjalani sistem pendidikan di dalam rumah. Baru sekarang, setelah Ibu menikah dengan orang Tokyo dan kami pindah ke Tokyo. Aku boleh pergi ke sekolah formal.
                Saat istirahat di kelas. Aku tak bisa kemana-mana karena setiap kali melihat perempuan wajahku akan merah. Pernah sekali waktu aku langsung mimisan. Parah. Grek! Anak yang duduk di depanku memutar kursinya jadi menghadap mejaku. Wajahku tertunduk merah padam. Dia laki-laki sih. Hanya aja…
                “Hoii, Minoru-kun!”
                “Ada apa?”
                “Ahahaha, kau masih kaku aja. Kita kan sudah kenal hampir dua tahun.”
                Ohya? Aku bahkan nggak tahu siapa namamu. “Oh, benar juga.”
                “Kau bawa bekal apa? Wah, itu sih enak banget. Ibuku payah. Masa aku cuma dibawakan beginian.”
                “Silahkan, jika kau mau!”
                “Ahahaha, jangan menawarkan dengan raut ketakutan gitu, dong. Aku tidak apa-apa. Hari ini juga tidak ada kegiatan klub yang berat.”
                Ano, kau ikut klub apa?”
                “Atletik! Atletik! Itu adalah keindahan olahraga yang sesungguhnya. Jika kau mau tahu.”
                Aku perhatikan bisep dan trisepnya. Memang sempurna. “Benar. Itu bagus.”
                “Kalau kau? Oh iya, aku dengar kau tidak bergabung di klub manapun. Kenapa begitu? Aku lihat badanmu oke juga. Gimana kalau gabung dengan atletik?”
                “Maaf. Aku nggak bisa tahan kalau harus memutar kepalaku ke bawah. Keseimbanganku juga jelek.”
                “Kita diwajibkan untuk mengikuti setidaknya satu kegiatan keorganisasian. Kalau begitu sebagai gantinya apa?”
                “Aku bergabung di suatu klub yang tidak begitu menonjol. Tidak keren juga.”
                “Apa? Apa? Apa?”
                Aku termenung melihat sosis gorengku di tempat makan. “Klub hoki.”
                “Wah, itu hebat juga kok. Dulu aku pernah…”
                Kenapa aku bohong? Aku tidak suka berbohong. Meski terkadang datang situasi yang memaksaku untuk melakukan itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus berbuat kalau kebohonganku ketahuan. Namun apakah aku punya pilihan? Jika yang memintaku adalah sesuatu yang kuat dan besar. Memiliki otoritas penuh atas diriku.

2nd : Secret Police

Namaku Minoru Yamaoka. Sekarang aku duduk di kelas dua. Aku bersekolah di SMA Taiyoo di Ikebukuro-Tokyo. Sebelumnya aku tinggal bersama keluarga besar dari pihak Ibu di Nagano. Ayah kandungku sudah meninggal saat aku masih kecil. Dan Ibu menikah lagi dengan seorang ilmuwan di Badan Riset Negara. Namanya Takako Akisaka. Aku hanya beberapa kali melihatnya pulang. Ia sibuk sekali dan selalu meninggalkan kami di apartemen mewah miliknya.
                Oleh karena itu semenjak setahun lalu Ibu memutuskan untuk bekerja. Ia kini sama jarang di rumahnya dengan Takako. Tapi itu semua bukan masalah. Karena waktuku sendiri yang kuhabiskan dengan berada di rumah hanya saat tidur malam.
                Aku membidik ke target itu. DOR! DOR! DOR!
                “Sempurna sekali, Yamaoka-kun!” puji pembimbingku. “Sudah kuduga. Penilaian Akisaka-kyouju memang tidak pernah salah. Kau adalah jenius yang memang dilahirkan untuk ini!”
                “Aku sama sekali nggak memperdulikan semua itu.”
                “Baiklah, kelas materi dimulai setengah jam lagi. Gunakan itu untuk bersiap-siap!”
                “Haha, sampai kapan dia akan mengulangi peringatan itu? Kita semua udah tahu kali,” celoteh teman seangkatanku.
                Kami disebut sebagai Himitsu Keisatsu. Apa yang kami lakukan barusan juga hanya latihan yang sederhana. Para anggota Himitsu Keisatsu seperti kami ini dibimbing oleh tutor yang berasal dari militer negara. Angkatan ini adalah angkatan pertama. Karena organisasi memang baru saja didirikan. Dalam menindaklanjuti kejahatan dalam negara. Kami adalah orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi pemerintahan independen dengan tingkat kerahasiaan paling tinggi. GHQ.
                Dulu aku tertarik dengan isu-isu tentang alien dan parallel universe. Tapi semakin besar, aku menyadari bahwa itu semua mustahil. Tugas kami sebagai Himitsu Keisatsu pun sebatas pada mengawasi lingkungan masyarakat dengan terjun ke dalamnya. Makanya anggota kami pun beragam dan berasal dari berbagai latar belakang. Ada Takashi-san yang seorang guru SMP. Ada juga Miruhi-san yang seorang tukang jahit. Yang paling dekat, ada aku yang seorang anak SMA. Kami adalah para manusia terpilih.
Himitsu Keisatsu telah dibentuk bertahun-tahun lalu. Yang membuatnya baru teresmikan sekarang adalah, proses dalam mencari orang-orang yang akan menjadi anggotanya. Sikap, perilaku, kepribadian kami, semua dipelajari oleh ribuan agen. Yang diturunkan secara langsung ke seluruh pelosok negeri. Untuk kelak akan menjadi badan pengaman kenegaraan paling baik di dunia. Kami adalah para calon senjata manusia paling mematikan.
Selain itu, Himitsu Keisatsu memiliki saudara. Namanya Kuro no Shoujou. Kuro no Shoujou; Girl in Black [MiB-nya Jepang yang beranggotakan gadis-gadis muda].
                Meskipun Tsuguri-san bilang kalau aku jenius atau semacamnya. Sebenarnya aku yakin dia tidak benar-benar menganggap aku seperti itu. Karena lihatlah. Seorang pemuda blasteran berkacamata bertampang menyebalkan yang sejak tadi sok menyendiri di sana. Ia melirikku! Aku langsung membuang wajah dan berlari menjauh.
                Di kelas. Kami belajar mengenai banyak hal. Mengenai dunia kegelapan industri. Persaingan. Politik. Kami harus mampu mengendarai seluruh kendaraan di muka Bumi untuk jaga-jaga dalam situasi urgent. Sekarang Tsuguri-san sedang menjelaskan teori dalam mengendarai pesawat terbang.
Tsuguri-san adalah pengajar dalam kategori A list (the best). Masih muda dan bertalenta. Menurutku dia keren. Karena ia juga seorang anak berdarah campuran. Kenapa kau tidak jadi model atau pemain film saja, Tsuguri-san?
                “Ada pertanyaan?”
                Kami semua serempak menggeleng.
                “Kalau begitu biarkan aku memanggil seseorang di antara kalian untuk mengerjakan soal ini. Takahira-kun!”
                Anak itu maju dengan tampang dinginnya yang membuatku muak. Dalam waktu singkat ia telah mengerjakan soal di papan tulis dengan sempurna. Itulah yang membuatku benci padanya. Ia lebih pintar dariku. Hanya itu. Sisanya, sebenarnya ia cukup baik dan ramah. Ia hanya akan dingin saat sedang membaca dan hal apapun yang menyangkut pelajaran. Ia sekolah di SMU Aoda kelas dua. Sama sepertiku. Jadi tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
                Sepulang pendidikan.
                “Takahira-kun!”
                Ia tersenyum. Jarang sekali aku lihat dia berwajah ramah. Karena hampir setiap waktu dia itu akan membaca. Kesannya anak alim yang keren. “Ada apa?”
                “Mau pulang bareng?”
                “Kau itu bodoh, ya?” Jleb! “Sesama anggota yang seharusnya tidak mengenal terlarang untuk dekat di luar institusi. Karena akan menimbulkan kecurigaan pada masyarakat luar tentang keberlangsungan badan ini.”
                “Aku bawa seragam sekolah, kok. Kau juga langsung dari sekolah, ‘kan? Ayolah, sekali-kali saja kita menyamar menjadi anak SMA biasa.”
                “Itu ada waktunya. Kau tak perlu khawatir. Tapi aku mengagumi kemampuan menembakmu.”
                “Iya. Sama-sama.”






3rd : Friend

Esoknya kehidupan membosankan di sekolah kembali dimulai. Tapi semembosankan apapun, sekarang aku punya teman. Seseorang yang kemarin menyapaku. Sekarang aku sudah tahu namanya. Namanya Asagi Ruito. Aku tidak pernah nyaman kalau harus memanggil seseorang dengan nama depan. Jadi aku memanggil dia Ruito-kun saja. Meski begitu dia tak henti-hentinya…
                “Minoru-chaaan!!! Aku ingin main ke rumahmu.”
                “Ah, itu tidak mungkin. Setelah ini aku ada acara.”
                “Acara apa? Apa? Apa?”
                Yaampun, anak ini ternyata mengganggu sekali. “Bukan apa-apa sih.”
                “Kemarin aku mengikutimu saat pulang sekolah. Dan kau berlari ke suatu tempat yang tersembunyi. Setelah itu kau memasuki suatu mobil Jaguar hitam,” katanya datar.
                “Ahaha, kau berlebihan sekali. Itu mobil orangtuaku.”
                “Ibumu bekerja sebagai agen perjalanan wisata. Sudah satu minggu ini ia tidak di rumah. Sementara ayah tirimu merupakan seorang PNS. Dan kau tidak punya supir. Kau tinggal di apartemen Akezuka nomor 402.”
                “Darimana kau mengetahui semua itu? Tidak. Tepatnya, siapa kau sebenarnya!?”
                “Ahahaha, kau kenapa sih? Aku kan ketua kelas. Informasi mengenai itu semua ada di kertas laporan peserta didik yang aku periksa tadi malam.” Ia mendekatkan wajahku. “Apa kau menyembunyikan sesuatu?”
                “Tentu saja tidak. Memang kau pikir apa yang bisa disembunyikan oleh anak seperti aku?”
                “Kau memang menarik. Pasti seru jika yang selalu Nasada katakan itu menjadi kenyataan. Aku ingin alien itu ada dan sedang dalam rencana invasi terhadap Bumi. Bukankah itu bagus? Kehidupan kita yang biasa seperti ini akan berubah dalam sekejap.”
                Meski nyatanya, aku bukan manusia biasa. Kenyataan bahwa aku adalah anggota Himitsu Keisatsu adalah suatu hal yang tak bisa diabaikan. Sebenarnya, apa syarat untuk seorang manusia disebut sebagai manusia yang biasa?
                Dunia luar bagai utopia. Alasannya tidak lebih karena keluarga besarku yang memperlakukanku seolah berlian. Sejak kecil aku tidak boleh pergi meninggalkan rumah. Jika aku main dengan anak-anak tetangga, mereka akan memasang poster anak hilang.
Aku paham kalau mereka menyayangiku. Tapi itu semua sangat mengganggu. Saat tengah asyik main petak umpet, tiba-tiba ada segerombol polisi yang mengejarku sebagai anak hilang. Masa kecil yang tidak asyik.
                Berlanjut ke saat pulang sekolah. Sebenarnya hari ini aku tidak ada jadwal untuk hal yang berhubungan dengan Himitsu Keisatsu. Aku hanya akan berjalan pulang seperti anak SMA biasa. Terkadang ini terasa palsu dan menyesakkan. Aku selalu membayangkan, apa yang akan terjadi pada hidupku jika aku tidak bergabung dengan organisasi membosankan itu. Aku kehilangan masa remajaku. Terlepas dari diriku yang memang pemalu.
Aku ingin mengatakan apapun yang aku ketahui dengan apa adanya. Tapi itu tidak mungkin. Aku dipaksa untuk berubah dari seorang Minoru yang merupakan murid SMA. Dan Minoru yang seorang agen Himitsu Keisatsu. Aku telah merasakan kepahitan itu. Berada di suatu tempat yang mana untuk sepanjang hidup aku tak pernah diizinkan untuk menjadi diriku sendiri.
                Menurutku sendiri, Himitsu Keisatsu adalah suatu hal yang bodoh dan tidak perlu ada. Setiap detik, jam, hari yang berlalu. Aku hanya melihat kedamaian. Sudah ada polisi formal untuk mengatur itu semua.
Himitsu Keisatsu hanya dibutuhkan jika di dunia sudah ada penjahat sekelas Kira (Death Note). Tapi nyatanya, itu semua kan mustahil? Apa menurut kalian rumor-rumor yang menyatakan kalau Bumi itu sedang diincar oleh invasi para alien itu benar? Menurutku tidak. Itu hanya dongeng para pembuat film dan cerita yang menginginkan banyak uang dan sensasi. Hal seperti itu tidaklah harus dipercaya.
Jika ada jalan, yang aku inginkan hanyalah keluar dari keanggotaan Secret Police dan menjalani hidup sebagai manusia biasa.
                “Minoru-kun!”
                “Ri, Rikyu-san?” Wajahku selalu merah padam di saat seperti ini. Tapi libur bagi kami adalah sesuatu yang amat langka. Mumpung dia muncul di sini, kenapa aku tidak mengajaknya kencan? Kencan? Aku bisa pingsan jika terlalu lama berada di dekat perempuan. Gawat, gawat, siaga satu!
“Kenapa kau tidak melihatku? Aaah, sudah aku duga. Kau pasti membenciku…”
                “Ti, tidak kok! Aku tidak pernah membencimu…”
                “Lalu kenapa kau menutup diri seperti itu? Kau tidak pernah bilang ‘hai’ pada siapapun. Tapi aku amati belakangan ini kau dekat dengan Asagi. Hayoo, ada apa?” tanyanya sambil mencolek pipiku. Ah, jemari yang lembut.
                “Aku adalah tipe orang yang tidak bisa melancarkan serangan. Aku hanya bisa menerima serangan. Jika ada respon terhadapku, aku akan menanggapinya.”
                “Minoru-kun, aku sangat menyayangkanmu. Padahal kau cukup imut. Kalau dipandangi sebenarnya kau juga keren. Tapi kenapa harus semenutup diri itu?”
                “Aku hanya takut untuk membayangkan reaksi orang-orang terhadapku. Tidak lebih.”
                “Apa kau percaya alien? Aku percaya. Sangat percaya. Andai saja aku bisa menjadi salah satu dari mereka. Bagaimana menurutmu?”
                “Itu tidak mungkin. Semua mitos tentang alien maupun UFO itu hanyalah hoax.”
                Dari kejauhan tempat itu. Seseorang berseragam SMA Taiyoo mengamati langkah keduanya dengan seksama. Mendekatkan mulutnya pada transceiver. “Satu, dua, agen AAS47 disini. Target menuju rumah bersama seorang gadis!”
                Di luar semua itu. Pemerintah GHQ memiliki suatu lembaga oposisi underground bernama Phenomenal. Belum diketahui latar belakang berdirinya mereka. Karena latar belakang berdirinya berbagai lembaga pemerintahan rahasia itu sendiri sebenarnya belum diketahui.
                “Waah, apartemenmu besar!” sorak Rikyu. Sesampainya mereka di apartemen Minoru.
                “Tempat ini milik ayah tiriku. Tapi sejak setengah tahun lalu dia tidak pernah pulang.”
                “Kejam sekali. Ngomong-ngomong, Minoru-kun… Kau suka padaku, ‘kan?”
                Aku menaikkan sebelah alis.
                “Tidak usah bohong. Aku mendengarnya dari Yamano. Ia tahu saat kau mengatakannya pada Asagi.”
                Kini kunaikkan kedua alisku.
                “Tidak usah berlagak bingung atau gelagapan. Aku bersumpah akan menikah dengan siapapun yang bisa memberiku seorang alien sungguhan!”
                “Itu…” Psyuu! Bruk!
                Nasada menengok ke luar jendela. Nampak seorang sniper di atap gedung sebelah. Melihat korbannya tanpa gentar.
                Beberapa saat kemudian aku terbangun. Dan menyadari masalah Himitsu Keisatsu yang sebenarnya.
                “Tsuguri-san, agen nomor A7839 melapor. Aku diserang!”

***

IM memang suka membuat lagu. Makanya, cerita ini dibuat dalam mode film. Nah, sampai sini dulu. Bagaimana kelanjutan penyerangan terhadap Minoru? Siapa Rikyu sebenarnya? Ada apa dengan si abnormal Takahira? Yang terpenting, siapakah sebenarnya si ganteng Tsuguri-san itu? Waah, mari kita saksikan di post selanjutnya.

Arigatou gozaimasu karena sudah datang!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Blog IMonogatari as Cerita IM - Shingeki No Kyojin - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -